Prof. Dr. Farid Wajdi
Saifullah, S. PdI, MA
Moderator:
Syarkawi, M. Ed
Saifullah, S. PdI, MA
Moderator:
Syarkawi, M. Ed
Waktu:
Sabtu, 21 September 2013
Sabtu, 21 September 2013
Tempat: Aula M. A. Jangka, Universitas Almuslim Bireuen
Saya sangat kagum dengan aktifitas Prof. Farid dalam memperjuangkan dan sosialisasi pendidikan berkarakter, baik ditingkat daerah, nasional bahkan internasional.
Kalau kita ke Singapore (sekitar 2002) sukar sekali kita menemukan orang yang merokok di tempat umum, atau sukar sekali kita mendapati orang membuang puntung rokok di sembarangan tempat. Dari sini kita menilai bahwa orang-orang Singapor memiliki karakter bersih dan menghargai lingkungan. Namun, kalau kita masuk ke Malaysia bersama seorang perokok Singapor tadi, kita akan mendapati orang tersebut membuang puntung rokok sembarangan dan merokok di tempat umum. Nah, apa penilaian kita sekarang terhadap orang Singapor ini? Penilaian kita sebelumnya tentu saja salah. Orang ini sama sekali bukan orang yang memiliki karakter bersih, disiplin atau menghargai lingkungan. Kenapa orang ini terlihat memiliki semua karakter tersebut ketika berada di Singapor?
Menurut pandangan saya, baik buruknya kelakuan seseorang sangat ditentukan penegakan regulasi oleh pihak yang berwenang. Tanpa itu, seintensif apapun pendidikan/ pelatihan/ seminar karakter tidak akan memberikan hasil apapun. Sebagai contoh adalah orang Singapor di atas tadi. Dia disiplin menjaga kebersihan dan menghargai lingkungan adalah karena pemerintah Singapor akan mengenakan tindakan tegas berupa denda (uang) atau kurungan bagi siapapun yang melanggar peraturan yang telah disepakati, sedangkan di Malaysia, penegakan peraturan yang telah dibuat belum seketat di Singapor apalagi kalau di Indonesia.
Kesimpulan sementara saya adalah bahwa penegakan hukum dan peraturan oleh pihak yang berwenang adalah kunci utama menuju perubahan karakter menjadi lebih baik.
Masalahnya adalah kalau di Indonesia, khususnya di Aceh, harus mulai dari mana. Aparat yang berwenangnya sendiri adalah orang yang berkarakter buruk. Justru mereka adalah orang yang pertama melanggar peraturan yang seharusnya mereka tegakkan. Terlalu naif kalau kita mengharapkan generasi sesudah kita akan memiliki karakter yang baik, karena seumur-umur mereka menyaksikan generasi tuanya mempraktekkan karakter yang buruk.
Bagaikan lingkaran setan, kita tidak tau harus mulai dari mana. Generasi tua yang baik datang dari genarasi muda yang baik manakala, generasi muda yang baik hanya dapat dihasilkan oleh generasi tua yang baik pula melalui teladan yang ditunjukinya. Di tempat kita berselemak dengan teladan yang buruk. Mau dapat kerjaan (pns /pss) lumrah sogok-menyogok, penegakan hukum tajam kebawah tumpul ke atas, kroniisme, DPR RI kita juga banyak preman di sana, ada yang suka judi, zina, nyabu, korupsi apalagi, dan lain-lain.
Pendidikan terbaik adalah melalui teladan. Nabi Muhammad saw sendiri mendakwahkan Islam bukan hanya mengandalkan suara tetapi menunjukkan teladanya. Dia orang yang pertama melakukan perintah, dia juga orang pertama yang meninggalkan larangan. Kalau orang awam melanggar hukum diganjar sekali tapi, kalau dia saw atau anggota keluarganya as melanggar hukum diganjar dua kali. Beda sekali dengan kita (180 degrees)
Pendidikan terbaik adalah melalui teladan. Nabi Muhammad saw sendiri mendakwahkan Islam bukan hanya mengandalkan suara tetapi menunjukkan teladanya. Dia orang yang pertama melakukan perintah, dia juga orang pertama yang meninggalkan larangan. Kalau orang awam melanggar hukum diganjar sekali tapi, kalau dia saw atau anggota keluarganya as melanggar hukum diganjar dua kali. Beda sekali dengan kita (180 degrees)
Jadi, untuk Indonesia, khususnya Aceh, harus ada satu golongan yang mampu untuk memaksakan para penegak hukum untuk menjalankan dan menegakkan hukum, dengan demikian masyarakat awam akan menjadikannya sebagai teladan. Insyallah, karakter kita akan menjadi baik dengan sendirinya. Namun, saya sendiri tidak tau darimanakah golongan ini harus muncul.
Wahai para pemimpin negri ini! Apa yang kamu miliki sekarang adalah semata-mata amanah dari Allah swt, dan sama sekali bukan hasil usaha kalian sehingga kalian merasa wajar untuk mengambil keuntungan (ilegal) darinya!
No comments:
Post a Comment